Contact Online
CONTACT 1
Id YM
CONTACT 2
Id YM
Jumlah Pengunjung

Video tentang Klaster

 

Pertumbuhan Klaster

image

Ingley dan Selvajarah (1998) membagi pertumbuhan klaster dalam dua kategori, yaitu klaster baru (new cluster ) dan klaster dewasa (mature cluster ). Klaster industri baru lahir terutama atas intervensi kebijakan Pemerintah. Contoh klaster baru, adalah klaster kacang tanah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Klaster tersebut tumbuh sebagai inisiasi dari BALITBANG Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 melalui serangkaian workshop, pembentukan lembaga klaster bernama "Sulebu Makmur", promosi, bantuan teknologi, inovasi dan lain-lain. Sedangkan klaster dewasa sering dikaitkan dengan sentra industri tradisional yang telah lama dikenal sebagai pusat industri kerajinan. Untuk menjadi klaster yang memiliki keunggulan kompetitif diperlukan minimal satu dasawarsa (Porter, 1998). Konfigurasi klaster mungkin masih berupa sentra industri dimana UKM terorganisir diseputar perusahaan-perusahaan inti (Hayter, 1997).

Suatu sentra industri sangat dimungkinkan sudah dewasa dari sudut usia sentra tersebut, namun masih belum terorganisir dengan baik sehingga jalinan kerjasama antar pelaku bisnis tidak ada, bahkan mengarah pada kondisi lingkungan persaingan yang tidak kondusif. Padahal keterkaitan antara perusahaan, bauran antara persaingan dan kerjasama, eksternalitas aglomerasi dan sebaran pengetahuan antara perusahaan- perusahaan dalam suatu klaster menjadi pilar pertumbuhan klaster (Horrison,1992; Nadvi dan Schmitz,1994).

Munir membagi pertumbuhan klaster ke dalam 4 (empat) tingkatan, yaitu lahap pertama disebut dengan sentra dengan ciri peralatan dan teknologi masih tradisional dan belum mempunyai cara kerja yang efisien, serta belum mempunyai kemampuan dalam menggali pasar. Tahap kedua disebut klaster yang aktif, klaster ini sudah mampu dalam pengembangan teknik produksi, serta sudah mampu mengembangkan pemasaran domestik dan ekspor ke luar daerah. Namun kelompok ini masih memiliki kendala dalam hal terkait dalam permasalahan kualitas dan pasar. Dalam klaster ini beberapa usaha masih menggunakan pemasaran dengan jasa p edagang dari luar kelompok. Tahap ketiga adalah klaster dinamis. Pada klaster ini pemasaran sudah menjangkau luar negeri, jadi tidak hanya domestik. Heterogenitas internal menjadi kata kuni kemajuan klaster dalam kategori ini. Namun tetap saja masih ada kendala yang membentur kelompok ini, karena perusahaan yang menjadi pelopor jauh berkembang lebih pesat dibandingkan perusashaan lain dalam klaster tersebut. Dan biasanya perusahaan pelopor ini cenderung lebih mudah dalam menjalin hubungan dengan pihak di luar klaster daripada anggota atau perusahaan dalam klaster yang lain. Tahap keempat adalah klaster yang advanced hanya sedikit klaster yang masuk dalam kategori ini, mengingat klaster yang masuk dalam kategori ini sudah dapat mengembangkan kerjasamanya dengan berbagai stakeholder lain yang terlibat dalam perkembangannya. Bahkan kelompok ini sudah mampu mengembangkan kerjasama dengan lembaga riset dan pengembangan produk seperti institusi perguruan tinggi. Kelompok ini sudah mampu memperluas kerjasama dengan daerah sekitarnya dan mampu bersinergi antar daerah. Mendasarkan pada tahapan tersebut kunci dari pengembangan klaster adalah keterlibatan stakeholder secara aktif melalui kebersamaan dan kerjasama atau disebut modal sosial.

Berdasarkan tahapan pertumbuhan klaster (life cycle) menurut EU-Commission (2002b), melihat bahwa pertumbuhan klaster seperti halnya kehidupan manusia, lahir, tumbuh, berkembang dan menurun. Adapun tahapan pertumbuhan klaster sebagai berikut :

  1. Tahap pembentukan dan inisiatif (embrio), pada tahap ini masih didominasi oleh perusahaaan-perusahaan yang pioner, masih menggunakan kondisi lokal (seperti bahan baku, pengetahuan yang spesifik), merupakan perusahaan yang start-up menempati konsentrasi geografi tertentu dengan produk yang sama
  2. Tahap pertumbuhan, pada tahap ini sudah terjadi spesialisasi supplier dan pengusaha yang menyediakan jasa. Adanya spesialisasi tenaga kerja dan penggunaan fasiIitas bersama untuk produksi. Tersedia adanya organisasi pelatihan, riset dan asosiasi yang berkontribusi dan berkolaborasi yang memberikan informasi dan pengeetahuan.
  3. Tahap pendewasaan, pada klaster ini terjadi adanaya pertukaran informasi dan pengetahuan secara rutin yang didasarkan pada kesepakatan bersama, Ciri klaster ini adalah adanya klaster yang stabil tetapi tidak menutup kemungkinan sulit lebih berkembang.
  4. Tahap penurunan, penurunan di dalam klaster bersamaan dengan adanya penurunan organisasi, kondisi bisnis yang tidak disertai inovasi.

(Sri Hestiningsih, Sekretariat AKsI )

Wed, 10 Apr 2013 @20:11


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 AKsI · All Rights Reserved



RSS Feed