Contact Online
CONTACT 1
Id YM
CONTACT 2
Id YM
Jumlah Pengunjung

Video tentang Klaster

 

Perkembangan Klaster di Indonesia

image

Pendekatan pengembangan klaster usaha telah berkembang pesat dalam dua dekade belakangan ini sejak tahun 1990an, dipopulerkan secara luas oleh Michael Porter, yang diikuti oleh ahli-ahli yang lain dalam skala global. Pendekatan ini menarik tidak hanya bagi pengembang konsep dan ilmu pengetahuan, namun yang paling besar mendapat manfaat adalah para pelaku usaha, serta pemerintah yang mengelola pembangunan perekonomian. Praktisi dan pengambil kebijakan pembangunan terus tertantang menggunakan pendekatan ini untuk meningkatkan hasil guna pembangunan perekonomian. Porter menyebutkan bahwa konsep pembangunan klaster adalah merupakan cara berpikir baru tentang pembangunan ekonomi, nasional, wilayah, dan lokal. Konsep ini mendorong reposisi peran unit usaha, pemerintah, serta institusi lain penunjang ekonomi untuk meningkatkan kemampuan berkompetisi (Porter, 2000). Industri klaster, dimengerti sebagai industri sektoral di sebuah wilayah khusus (Harrison, 1992, Llobrera dkk., 2000; Markusen, 1996; Park dan Markusen, 1995; Schmitz dan Nadvi,1999 dalam Marijan, 2004). Secara lebih lengkap Porter menyebutkan bahwa klaster usaha adalah konsentrasi geografis dari unit usaha tertentu yang saling terhubung, serta usaha lain pendukungnya yang dapat saling berkompetisi dan juga bekerjasama (Porter, 2000).
Fenomena perkembangan klaster usaha sebenarnya sudah lama terjadi secara alamiah dari kekuatan pasar, namun pengembangan klaster usaha secara sistematis formal di Indonesia baru mulai berkembang sejak awal dekade 2000an seiring dengan usaha pemulihan perekonomian paska krisis ekonomi tahun 1997, dan kesadaran ketangguhan usaha mikro, kecil dan menengah(UMKM) lokal tehadap krisis ekonomi. Keunggulan dan daya tahan industri berbasis sumber daya lokal sudah ditunjukkan pada saat krisis ekonomi regional pada tahun 1997 tersebut. Pada saat krisis ekonomi, banyak industri besar yang berbasis bahan baku impor tidak dapat bertahan karena biaya produksi yang meningkat.
Klaster usaha di Indonesia khususnya di Jawa Tengah memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan persepsi klaster di negara maju. Klaster usaha di Indonesia umumnya adalah klaster tradisional yang terdiri dari kelompok-kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah. Kelompok ini adalah bagian terbesar dari unit usaha yang ada di Indonesia. Dari sisi jenis sektor usaha, maka klaster di Jawa Tengah dikelompokkan menjadi tiga yaitu klaster yang berbasis usaha industri, pertanian, dan pariwisata. Data menunjukkan bahwa dari jumlah seluruh unit usaha di Jawa Tengah maka 99,83 % adalah unit usaha yang tergolong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dari prosentase ini maka porsi terbesar adalah unit usaha mikro yang mencapai 85,52%, usaha kecil 13,75%, dan usaha menengah 0,56%, dengan jumlah total sebesar 643.504 unit usaha. Jumlah tenaga kerja dari unit usaha UMKM ini mencapai 7.054.731 tenaga kerja. Hal ini menegaskan peran penting klaster usaha dalam mendukung perekonomian lokal.
Pengembangan klaster usaha pada tingkat nasional selama ini telah dilakukan bersamaan dengan pengembangan pada level lokal. Pada tingkat nasional pengembangan klaster usaha telah dilakukan beberapa lembaga antara lain dari BAPPENAS dengan program KPEL (Kemitraan Pengembangan Ekonomi Lokal), Keterkaitan Desa dan Kota melalui program PARUL (Poverty Alleviation through Rural-Urban Lingkages); Departement Perindustrian dan Perdagangan melalui program OVOP (one village one product); Kementrian Koperasi dan UKM dengan kegiatan bantuan sentra/ klaster melalui BDS (Business Development Services) dan MAP (Modal Awal Padanan), serta Kementrian Riset dan Teknologi dengan pengembangan techno industrial klaster dan aliansi strategis.Pada saat yang sama pada tingkat lokal di daerah juga melakukan pengembangan klaster usaha sebagai kebijakan pembangunan perekonomiannya.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 AKsI · All Rights Reserved



RSS Feed